Bagaimana Agar Rumput Laut Indonesia Lebih Berdaya Saing

4 weeks ago

Dalam laporan FishStatJ yang dikeluarkan oleh FAO pada 2020, disebutkan bahwa produksi rumput laut Indonesia pada tahun 2018 mencapai 9,3 juta ton atau setara dengan 28,78 persen kapasitas produksi dunia. Dengan volume sebesar itu, Indonesia menjadi produsen kedua terbesar dunia di bawah China yang mampu memproduksi rumput laut hingga 18,6 juta ton atau setara 57,36 persen produksi dunia. 


Namun demikian, meski secara volume produksi rumput laut Indonesia terbilang besar, tetapi nilai ekspornya masih berada di bawah Korea Selatan yang jumlah produksinya jauh di bawah Indonesia. Pada 2019, nilai ekspor rumput laut Indonesia hanya USD218 juta dari 28,60 persen produksi global. Sementara Korea Selatan dengan kapasitas produksi 5,23 persen saja, mampu menggapai nilai ekspor hingga USD278 juta. 


Apa yang menjadi pembedanya? Menurut Wakil Ketua Asosiasi Industri Rumput Laut Indonesia (Astruli), Pontas Tambunan, hal tersebut disebabkan oleh daya saing dan nilai tambah produk rumput laut Indonesia yang masih rendah karena sebagian besarnya masih dalam bentuk hydrocolloid atau masih dalam bentuk bahan baku. Indonesia belum memaksimalkan potensi produk aplikasi atau produk jadi dari rumput laut yang memiliki nilai tambah lebih tinggi lagi seperti yang dilakukan Korea Selatan. 


Padahal jika Indonesia bermain lebih besar di produk rumput laut yang siap pakai atau siap konsumsi, nilai tambah yang didapat akan jauh lebih besar. Sebagai contoh, salah satu produk makanan dari rumput laut yang berhasil diekspor ke Eropa dengan nilai omset mencapai Rp2 triliun per tahun, hanya memanfaatkan 1-5 persen saja rumput laut. Dapat dibayangkan jika sebagian besarnya sudah dalam bentuk produk jadi.


Sejumlah Perbaikan. Dalam acara Seaweed Fest 2021 yang diadakan oleh Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP beberapa waktu lalu, Pontas memaparkan kondisi terkini industri rumput laut di lapangan masih belum berdaya saing. Selain soal kualitas, ia menyebut beberapa hal lain yang menjadi tantangan daya saing rumput laut nasional.


Pertama, harga rumput laut sebagai bahan baku yang diterima oleh industri masih sangat tinggi. Dalam beberapa waktu belakangan ini, harga rumput laut yang sebetulnya hanya Rp 11 ribu per kg di tingkat pembudidaya, bisa menjadi Rp 31 ribu saat diterima oleh industri. Ada Rp 18 per kg biaya yang hilang yang membuat produk turunan rumput laut menjadi mahal dan tidak berdaya saing dibanding negara lain. 


Kondisi seperti ini, kata Pontas, seharusnya bisa diselesaikan di tengah masifnya perkembangan Internet of Things (IoT) dan Artificial Intelligence (AI). IoT dan AI memungkinkan untuk mendeteksi adanya disparitas harga yang sangat tinggi antara harga jual di pembudidaya dan harga yang diterima oleh industri, melalui pengumpulan dan pengolahan data riil sebanyak-banyaknya. Bahkan selain itu, IoT dan AI juga memungkinkan mengetahui data riil produksi rumput laut di lapangan. 


Meski pemerintah memprediksi produksi rumput laut akan mencapai 11,5 juta ton pada tahun 2021, tetapi jumlah sebanyak itu seperti tidak terakses oleh industri. Pontas menyebut, rata-rata produksi industri saat ini hanya 40 - 60 persen saja dari kapasitas seharusnya karena keterbatasan baku. Padahal dengan volume rumput laut hingga 11,5 juta ton, produksi industri seharusnya bisa full 100 persen. Sehingga ia menilai ada gap informasi yang seharusnya tidak terjadi. 


Namun demikian, dalam hal ini industri juga tidak mampu untuk mengoleksi data sebanyak-banyaknya dan mengolahnya dengan AI dan IoT karena keterbatasan sumber daya. Oleh karena itu, Pontas meminta agar pemerintah bisa masuk dalam isu perbaikan data ini. Data yang yang riil dan tepat bisa membantu industri mendapatkan kepastian harga dan volume riil rumput laut yang tersedia. Yang pada akhirnya bisa meningkatkan efisiensi produksi di tingkat industri. 


Kedua, Industri rumput laut di Indonesia saat ini masih bermain di produk derivatifnya saja. Belum sampai pada produk aplikatif atau produk jadi. Produk derivatif diterjemahkan oleh Pontas sebagai produk ekstrak rumput laut dengan produk akhir berupa hydrocolloid yang masih berupa bahan baku setengah jadi untuk industri selanjutnya. Baik industri makanan, farmasi, peternakan, maupun industri lain yang membutuhkan bahan baku ekstrak rumput laut. 


Beberapa produk derivatif ini bahkan tetap kurang berdaya saing karena proses produksi yang belum efisien. Pada produksi Iota Carrageenan yang bersumber dari rumput laut jenis Eucheuma spinosum misalnya, membutuhkan alkohol dengan harga yang masih mahal untuk standar bahan baku industri. Sehingga spesifik pada kasus iota ini, Pontas juga berharap kepada pemerintah untuk membuat relaksasi peraturan agar alkohol bisa digunakan pada industri rumput laut dengan harga yang lebih murah. 


Sementara produk aplikatif atau produk jadi merupakan produk akhir yang siap dikonsumsi atau digunakan. beberapa contohnya seperti mi, dodol, hingga plastik rumput laut yang memiliki nilai tambah jauh lebih tinggi. 


Terakhir, traceability atau ketelusuran tengah  menjadi perhatian konsumen dunia terhadap produk-produk pangan, tidak terkecuali rumput laut. Sehingga untuk meningkatkan kepercayaan konsumen dunia  terhadap produk rumput laut nasional, selain dengan sistem ketelusurannya itu sendiri, proses budidaya dan proses di industrinya pun harus memerhatikan standar-standar produksi yang baik dan benar. 


Sumber: https://minapoli.com/info/bagaimana-agar-rumput-laut-indonesia-lebih-berdaya-saing

Our Partners
Supported By