Mengintip Potensi Bisnis Digitalisasi Rumput Laut

6 months ago
Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam kelautan yang sangat melimpah, seperti halnya rumput laut. Dwi Andika Irawan, CEO Logice Indonesia mengatakan, produksi rumput laut terbesar ada di Nusa Tenggara Timur (NTT).


Merujuk data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), volume produksi rumput lautnya hingga tahun 2020 mencapai lebih dari 2,1 juta ton atau sekitar 22,45 persen dari total produksi rumput laut di Indonesia. Sementara Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, usaha budidaya rumput laut menjadi mata pencaharian utama bagi mayoritas masyarakat pesisir NTT.




Berdasarkan Survei Komoditas Perikanan Potensi Rumput Laut 2021 (SKPP-RL21), ada lebih dari 10 ribu rumah tangga di Provinsi NTT menjalani usaha budi daya rumput laut. Untuk menunjang potensi kelautan tersebut dibutuhkan unit pendukung yang komprehensif dalam memastikan kesegaran rumput laut agar terus terjaga.


"Diperlukan solusi digital yang bisa melacak, memonitor, mengelola pengiriman, penyimpanan, serta pemproses komoditas yang menyeluruh," ujar bos startup logistik hasil laut itu, Minggu (27/8/2023). Nur Islami Javad, Chief Digital Ecommerce Fintech Sharing Vision Indonesia mengatakan, traceability (keterlacakan) dalam bisnis hasil laut dapat memastikan kualitas pengiriman sekaligus meningkatkan nilai tambah terutama bagi pembeli skema ekspor.


Salah satu yang berupaya mendigitalisasikan pelaku budi daya rumput laut di NTT adalah PT Telkom Indonesia melalui Agree, platform agrobisnis yang berada di bawah payung Leap Telkom Digital. Salah satunya melalui kerja sama antara Agree dengan Organisasi Perburuhan Internasional atau International Labour Organization (ILO) dalam mengimplementasikan teknologi digital bagi ekosistem rantai nilai rumput laut di wilayah Sumba Timur, NTT.




PT Algae Sumba Timur Lestari (ASTIL), mitra ILO sekaligus BUMD milik Pemerintah Kabupaten Sumba Timur, memanfaatkan layanan Agree Traceability Hulu-Hilir sebagai upaya digitalisasi rantai pasok rumput lautnya. Teknologi digital yang diberikan oleh Agree memberikan kemudahan melacak asal dan perjalanan suatu produk dari sumber hingga tujuan akhir.


Agree Traceability membantu dalam memantau dan mencatat setiap tahapan budi daya rumput laut dari hulu hingga ke hilir, seperti pemeliharaan, pengolahan, dan distribusi produk. Head of Center for Entrepreneurship, Tourism, Information and Strategy (Centris), Pasca Sarjana Universitas Sahid, Dr Algooth Putranto, mengatakan bahwa penggunaan platform Agree memungkinkan taraf pengetahuan dan kualitas nelayan naik kelas secara cepat. Sebab, aplikasi membuka peluang saling terhubungnya antar nelayan, nelayan dengan regulator, hingga nelayan dengan pembeli.




Tantangan terbesarnya adalah konsistensi. Semisal konsistensi nelayan mengadopsi teknologi ini. Telkom pun harus terus konsisten dalam melakukan eksplorasi mengenai kebutuhan-kebutuhan nelayan lainnya dengan memanfaatkan teknologi. "Jika konsistensi ini bisa dilewati, saya optimistis nelayan NTT akan sejajar nelayan-nelayan di Thailand, Taiwan, Jepang, hingga Eropa dan Amerika yang melek teknologi," sambungnya.


Project Manager Promise II Impact ILO, Djauhari Sitorus mengatakan, hanya dalam tiga bulan menggunakan Agree, pihaknya sudah mampu mengoptimalkan transaksi antara petani dan ASTIL hingga lebih dari Rp 12 miliar secara kumulatif. "Berbagai upaya yang dilakukan Telkom melalui Agree dan kerja sama dengan ILO, merupakan langkah yang sangat penting untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pemerataan ekonomi di NTT," pungkasnya.




Artikel ini pertama kali dipublikasikan oleh Money Kompas. Ketepatan informasi di dalamnya di luar tanggung jawab Seaweednetwork.
Our Partners
Supported By