Inovasi! Jaga Stabilitas Harga, Warga Nusa Penida Klungkung Bikin Produk Kosmetik Berbahan Rumput Laut

6 months ago

Warga Kecamatan Nusa Penida kian jeli mengatasi persoalan yang ada di wilayahnya. Di antaranya persoalan fluktuasi harga rumput laut yang membuat sebagian besar petani rumput laut beralih profesi ketika industri pariwisata menjanjikan hasil lebih menguntungkan dan stabil.


Ada I Nyoman Sudiatmika, 40, warga Desa Jungutbatu, Kecamatan Nusa Penida yang sejak 2019 lalu melakukan sejumlah percobaan untuk bisa menghasilkan produk olahan dari rumput laut. Dengan harapan, permintaan bahan baku rumput laut yang stabil dapat membuat harganya turut stabil.


“Tahun 2021, saya akhirnya bisa membuat produk sabun cuci tangan berbahan baku rumput laut dan sabun cuci piring dengan merek Algaemy,” terangnya saat ditemui di stand Festival Nusa Penida VI, Kamis (5/10/2023).


Meski dirilis saat pandemi Covid-19, menurutnya sambutan pasar atas produknya itu sangat luar biasa. Kedua produk itu laku di toko oleh-oleh wilayah Ubud, Gianyar. Dengan harga sabun cuci piring yang berkisar Rp50 ribuan ribu per buah dan sabun cuci tangan seharga Rp110 ribu per buah, ada ratusan produk habis dalam sebulannya.


“Produk ini disukai wisatawan atau warga asing yang tinggal di Bali,” katanya.


Tidak berhenti di dua produk tersebut, Sudiatmika bersama sang istri terus mencoba menghasilkan produk-produk baru berbahan baku rumput laut. Dua bulan lalu, sejumlah produk perawatan kulit berhasil diluncurkan.


Untuk produk satu ini, menurutnya mendapat sambutan baik dari warga Bali. Hanya saja karena masih mengandalkan reseller yang belum merata di setiap daerah, produk tersebut baru banyak dikenal oleh warga Denpasar.


“Itu karena masyarakat mulai peduli dengan bahan baku alami produk perawatan kulit mereka. Sehingga peminatnya cukup banyak untuk produk perawatan kulit,” jelasnya.


Guna menjaga stabilitas pasokan bahan baku rumput laut di tengah sektor pariwisata Nusa Penida yang kembali menggeliat pasca pandemi Covid-19, dia berupaya memberikan fasilitas kepada petani rumput laut yang bekerja sama dengannya.


Di antaranya dengan mengikutkan para petani rumput laut sebagai peserta BPJS Kesehatan dan BPKS Ketenagakerjaan yang iurannya dibayarkan dirinya.


“Ini cukup memberikan pengaruh. Jumlah petani rumput laut yang mencapai 400 orang di saat pandemi dan sempat turun di bawah 50 orang pasca pandemi, kini jumlahnya kembali naik di kisaran 80 orang lantaran fasilitas ini. Sehingga pasokan bahan baku rumput laut masih terjaga,” tandasnya.


Artikel ini pertama kali dipublikasikan oleh Radar Bali. Ketepatan informasi di dalamnya di luar tanggung jawab Seaweednetwork.

Our Partners
Supported By